Senin, 14 Juli 2014

Dian Sastrowardoyo : Aku Memilih Islam Karena Ingin Berserah Diri Kepada Allah

Saat Isra Miraj tahun 2006 lalu, Dian Sastrowardoyo memutuskan untuk berpindah keyakinan. Ia memilih masuk Islam bukan lantaran popularitas, namun karena kemauan hatinya.

Meski sang ibu menganut agama Katolik, namun Dian mengaku bahwa itu tak menjadi masalah. Menurutnya, sang ibu bukanlah orang yang picik. Beliau tidak mempermasalahkan soal keyakinan yang dipilih sang putri. Semoga Istiqomah ya Dian


Berikut dialog dengan Dian Satrowardoyo:

Tentang agama, apa sebetulnya yang membuat kamu pindah ke agama Islam?
Dari hatiku sendiri. Sekarang aku belajar sama Om aku. Aku adalah seorang mualaf.

Bukankah di Islam tugas ibadahnya lebih berat?
Wah nggak. Yang penting kita iklas.

Selama pacaran dengan Iyun, apakah dia juga sering mengajari kamu tentang Islam?
Iya. Aku suka tanya-tanya ke dia.

Kalau belajar shalat dari mana?
Dari buku. Aku beli buku. Ada guru juga yang ngajarin, tapi lebih banyak aku baca buku.

Udah bisa semua?
Belum. Aku belum bisa doa Khunut.
  


Kapan tepatnya kamu masuk Islam?
Malam Isra Miraj tahun lalu.

Sampai sejauh ini, penghayatan Islam kamu bagaimana?
Aku ingin menjadi muslim yang artinya pasrah. Jadi aku muslim bukan karena pacaran sama orang Islam atau ajakan orang lain. Ini panggilan dari jiwaku sendiri. Dalam belajar Islam, saya tidak menghapal. Karena yang lebih penting bagi saya adalah tahu artinya.

Sebagai muallaf, perasaan kamu bagaimana?
Perasaanku lega. Karena aku masuk Islam bukan karena popularitas. Yang membuat aku memilih Islam karena aku ingin berserah diri dan pasrah kepada Allah. Karena Islam bagi saya adalah berserah diri dengan ikhlas. Dan aku sudah yakin benar akan pilihanku. Dalam belajar agama, saya bukanlah orang suka menghapal atau hanya sekedar membaca saja. Saya ingin menghayati setiap ayat-ayat Al-Quran. Jadi tidak sekedar bisa mengucap dan menghapal, tapi kita juga harus tahu artinya. Sumpah mati aku ikhlas.

Dari pihak keluarga bagaimana?
Kebetulan saya hanya sama mama. Mama saya beragama katolik, dan beliau bukan;lah orang yang picik. Dia tahu bahwa agama apapun, kalau memang yang menjalankan itu iklas, maka akan baik bagi dirinya sendiri. Jadi mama merasa tidak punya hak untuk melarang siapa saja dalam memilih agamanya masing-masing. Waktu pertama-tama mama memang kaget, karena dikiranya saya akan pergi jihat. Tapi setelah aku jelaskan, mama akhirnya dapat menerima dan mengerti. Malah sekarang, kalau aku lupa sholat, mama yang sering kasih ingat.

Banyak orang sekarang sering kali mengidentikan Islam dengan teroris. Menurut kamu bagaimana?
Itu hanya kebohongan. Bagi saya itu hanya politik.

ISLAMISLOGIC.WORDPRESS




 

1 komentar: