Rabu, 23 Desember 2020

Ketika Seorang Ulama Miskin Menenangkan Istrinya

Sumur Zamzam | Ilustrasi


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥) فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٦) إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ (١٧) عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allahlah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu, dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu, dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,” 

(QS. At-Taghabun [64]: 14-18)


KISAH KASIH ASMARA | Kehidupan Imam Ibnu Hajar Al Haitami sangat bersahaja, bahkan beliau pernah didera kemiskinan selama empat tahun. Kemiskinan yang teramat sangat, bolehlah dibilang di bawah garis kemiskinan. Syahdan beliau tidak pernah makan daging karena tidak punya uang untuk membelinya. Padahal sesungguhnya dia sangat menginginkan. Perlu pembaca ketahui, daging kambing di Arab, perumpamaannya seperti makan daging ayam di Jawa.   


Meski demikian Beliau mampu bersabar atas kemiskinan yang mendera, tapi tidak dengan Istrinya. Dia sangat ingin hidup seperti layaknya istri-istri orang terpandang lainnya. Sebagaimana gaya hidup wanita pada umumnya, bisa merawat tubuh. Sebenarnya tidak muluk-muluk keinginannya, sekadar mandi di pemandian air panas. Hingga, terucaplah keinginan itu kepada sang Suami, Syekh Ibnu Hajar al Haitami.  


Tapi, Imam Ibnu Hajar tidak mampu membelikan tiket masuk. “Bersabarlah istriku, kita kumpulkan uang dulu untuk tiket masuk ke sana," katanya terus terang.


Demi memenuhi keinginan istrinya itu beliau meyisihkan uang sedikit demi sedikit. Hingga tabungannya terkumpul setengah riyal yang langsung diberikan kepada istrinya.


Sang Istri segera pergi ke tempat yang diidamkannya, sauna. Ternyata begitu sampai di sana, penjaga tidak mau  membukakan pintu.


Penjaga berkata, “Hari ini saya tidak akan membukakan pintu ini untuk siapapun, karena istri Syekh Al-Alim Al-Faqih Muhammad Ar-Ramli sedang di dalam bersama para sahabatnya. 


Istri Syekh Ramli berpesan agar jangan membukakan pintu untuk siapapun pada hari ini. Dia telah membooking pemandian ini seharian senilai 25 riyal!" tegas si Penjaga. 


"Tapi, jika Ibu ingin masuk ke pemandian datanglah besok pagi, hari ini tidak bisa!” ujar penjaga menyudahi perdebatan.



Silakan Klik:

۞Gerakan Wakaf al Quran۞

Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah


Istri Syekh Al Haitami pun pulang dengan masygul. Dibarengi rasa kesal dia mengembalikan uang setengah riyal itu pada suaminya. 


“Orang yang berilmu sekarang adalah Syekh Muhammad Ar-Ramli," sindirnya. 


Syekh Al Haitami diam mendengarkan.


"Istrinya hari ini masuk ke pemandian air panas dengan membayar 25 riyal dan tidak mengizinkan seorang pun masuk.” 


Syekh Al Haitami diam mendengarkan, menahan sabar.


Dengan bersungut-sungut si istri mencerocos terus, “Lalu mana ilmumu? Sudah fakir, sengsara, susah payah sendiri dan tidak mendapat apa-apa dari ilmumu. 

Nih aku kembalikan uang yang kamu kumpulkan berhari-hari ini!”


Mendengar ucapan istrinya, Ibnu Hajar berkata, ”Aku sudah ridha atas apa yang Allah takdirkan untukku. Jika kamu menginginkan dunia, mari kita ke sumur zamzam.”


Dengan perasaan bingung istrinya menurut saja. Keduanya pergi ke sumur zamzam. Ibnu Hajar menimba sekali, ternyata begitu muncul satu timba yang diraihnya berisi penuh dengan uang dinar.


“Apakah ini cukup?” tanya beliau.


Istrinya menjawab, “Kurang!”


Beliau menimba untuk kedua kali. Ternyata isinya penuh dengan uang dinar lagi. “Apakah segini cukup?” tanya beliau lagi.


“Aku ingin tiga timba,” jawab istrinya.


Beliau menimba untuk ketiga kali dan isinya juga sama seperti sebelumnya.


Syekh Ibnu Hajar berkata kepada istrinya, “Aku suka fakir karena pilihanku sendiri. Kupilih untuk diriku sendiri apa yang ada di sisi Allah taala. 

Adapun dunia, tak ada artinya bagiku," tutur Syekh Haitami.


Dia menahan nafas sebentar lalu berkata, "Dengarkan baik-baik aku punya dua pilihan untukmu. Pertama, kembalikan semua uang emas ini ke dalam sumur zamzam dan engkau masih bersamaku!" 


Sejurus Istrinya terdiam.


"Atau kamu bawa semua uang emas ini.

Kamu pulang ke rumah keluargamu dan kamu ambil talakmu dariku, 

karena aku tidak menginginkan dunia.”


Istrinya mencoba menawar, “Bagaimana kalau kita nikmati saja semua uang ini, hidup wajar seperti orang-orang?”


Ibnu Hajar berkata, “Tidak mau, kamu kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kamu ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.”


Tapi istrinya masih ngeyel, “Bagaimana kalau kita kembalikan satu timba saja ke dalam sumur?”


“Tidak mau, kamu kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kamu ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu!


“Bagaimana kalau kita kembalikan dua timba dan yang satu timba kita simpan?”


“Tidak! 

Kamu kembalikan semua emasnya ke dalam sumur 

atau kamu ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.”


“Kita ambil satu dinar saja untuk bersenang-senang hari ini....” rajuknya lagi.


“Tidak mau, kamu kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kamu ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu,” Imam Haitami tak kalah tegasnya.


Akhirnya Istrinya luluh, “Kita kembalikan saja semuanya ke dalam sumur. Aku tidak ingin berpisah denganmu karena kita sudah bersama selama bertahun-tahun. Engkau telah memperlihatkan karamah ini tetapi harus berpisah di hari ini? Aku tidak mau.”


“Aku memilih bersabar saja bersamamu,” lanjut istrinya. 


“Aku semakin yakin hidup bersamamu, walau hidup dalam keadaan miskin. Demi Allah, aku akan bersabar dengan segala kesulitan hidup ini.”


Begitulah, bila sang Istri meminta bagiannya di dunia dia tidak akan bersama Imam Ibnu Hajar Al Haitami di surga yang penuh kenikmatan dan kekal.


Silakan Klik

MutiaraStore

Lengkapi Kebutuhan Anda



Tidak ada komentar:

Posting Komentar